Aku
menunggu sejam yang lalu dalam terik suci mentari hingga mengalunnya rintik
sunyi hujan di sore itu. Kudengar hingga kunanti kereta senja yang datang di
ufuk timur tiba. Aku pun tak tahu siapa dan mengapa diriku berada di sini dalam
keheningan siluet senja. Dalam ruang-ruang dimensi atau wujud tiada menghendaki
cinta bernaung dalam gelora asmara di setiap jiwa anak cucu Adam diciptakan.
Genderang
hati ini bertabuh dengan simfoni haru pilu, lalu hancurkan puing-puing hati
biru kelabu. Wujud dentuman ornamen melirih kian menderu, sendu, dalam tangisan
nian syahdu. Kucoba warnai hari-hariku bagai rona kehidupan cintaku. Mungkinkah
asmara dalam raga bersenandung rindu harus malu pada hamparan luas lautan kian
menebar emosi dan tetesan embun dalam hati pelangi biru di langit luas.
Menatap
indah cakrawala penuh harapan dan cinta di balik bayangan hanya bersama sosok
indahmu. Kutorehkan namamu dalam hati, lalu kulukis cantiknya parasmu dalam
beribu ratapan sajak-sajak pelangi. Tepercik kata-kata mimpi, bersungging
senyum dewi-dewi cinta. ‘’Akankah kau pergi tinggalkan diriku sendiri sehingga
kau nanti kembali dalam ruang dan dimensi yang lain?’’ tanyaku.
‘’Mungkin
biarkan cinta bersemi dalam keabadian seiring ilusi waktu,’’ sahut Cupi seraya
menatap pilu. Sontak aku terpana dan bergemuruh dalam ingar-bingar hatiku.
‘’Jangan engkau biarkan cinta bersemi dalam ilusi waktu,’’ pintaku. ‘’Mengapa?’’
sahutnya seraya membalikkan tubuh dalam indahnya cakrawala sore itu.
‘’Karena waktu kian sirna terempas dan tersungkur hingga tercabik dan tak
berbekas,’’ ujarku.
‘’Lalu harus dengan apa kubuktikan karena kusungguh mencintaimu dan cintaku tak
bersayap seakan malaikat malu menatap keabadian cintaku,’’ pinta Cupi penuh
kebimbangan.
‘’Biarlah cinta
turun bagai setetes embun dari beribu pelangi yang hiasi kehidupan cinta,’’
ujarku singkat.
Kuempaskan
kata bertakhta itu dalam ruangan dimensi lain hingga waktu kian sirna dan
musnah tersungkur luka. Angin-angin sunyi mendendangkan ornamen cinta buatku
nian pilu.
“Apa
kau tahu, mengapa ombak datang menggema mengikis jiwa-jiwa yang hampa dan badai
menyeruak luluh lantak, lalu memorak-porandakan raga-raga tak berdosa,”
ungkapku masih bimbang.
Kupilin
waktu tuk beranjak diam dalam heningnya malam dan galaunya hati, mengapa Tuhan
kini tak kunjung bantu diriku. Kini pujaan tinggal kenangan dan harapan adalah
bualan. Kuhapus cinta setahap demi setahap, namun tak berarti. Kepedihan yang
kian kurasa seolah kini tersingkir luka lebam tersedu sedan dalam angan. Namun,
kini engkau hadir dan berikan puing-puing cinta dalam tutur lembutmu.
Kereta
senja menanti tiap hela napasku, bergulir seiring terempasnya pujaan ke dalam
ilusi fatamorgana yang kini hanya tinggal kenangan. Sebuah cinta, hanya sebuah
nama di hati. Bulan pelita gundah
gelisah di jiwa sehingga kutermanyun mimpi-mimpi. Kisah cintaku penuh penantian
kata, dalam sorot sinarnya mulai sayup terangi bekunya hati ini. Pesonanya
pahit tuk diterjang seakan tercabik sebilah pedang yang tajam dan kejam.
‘’Mungkinkah
sedihku kian meratapi dan mengaru biru kelabu?” ungkapku dalam ringkihan kebisuan.
Kereta senja menanti tiap hela napasku, kumeratap malu lalu embuskan ayat-ayat
cinta dalam napas terakhirku. Biarlah cinta sejati bersemi di hati, walau mata
terbuka dan tertutup, cintaku kian abadi.
“Kuhapus
air mata dalam duka, Kupejamkan mata dalam duka, Kuhempaskan raga dalam ruang
cintamu, dan kurentangkan jiwa dalam keabadian.. “
Harusnya kutahu, cinta kian turun seiring gemuruh hujan. Cinta tak mengenal perubahan karena perubahan itu merupakan perjanjian. Sayang, cinta tak mengenal perjanjian.
Kuharap kedamaian yang terpancar dari egomu memberikan secercah janji yang lebih indah diungkapkan dengan kebisuan. Beribu kata kian menjerit tuk diucapkan atau memang selalu ada hal indah yang terlupakan dan seharusnya lenyap terbakar egomu. Cinta ini kamu “Cupi”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.