Aku memilihmu dalam kegelapan, dengan hati sebagai mataku.
Kesalahan berlapis yang kusyukuri, karena tak pernah ada penyesalan yang mengikuti. Karena bisa memilihmu dan memilikimu adalah sebuah keberuntungan sempurna yang mengakar dalam barisan hari. Hari itu ketika suatu kata terucap, tunduk teduh pada keakuan hati, detik ini dan selamanya-nanti. Seperti lilin yang membakar diri hingga luluh lantak pada sebuah keakuan hati, pada sebuah perintah hati.
Entah sebagai awal atau akhir, aku tetap mengingkanmu sebagai tokoh utama dari setiap inci cerita bahagia dan sedihku. Entah sebagai awal atau akhir, ingin kuawalkan dan kuakhirkan dirimu sebagai satu-satunya untukku. Entah sebagai awal atau akhir, selalu menyimpan keyakinan untuk dirimu. Dan sebagai awal, aku memulakan dengan bismillah. Lalu seiring waktu untuk akhir, aku menuntun untuk selalu berdoa.