Dear You,
Kau, sesuatu yang tak terduga-
Cinta itu, tak pernah terduga
kapan datangnya, dari mana datangnya dan kepada orang yang tak terduga juga.
Setarik napasku memburu waktu yang tak kunjung mengungkapkan sapa baiknya.
Sepertinya aku mulai menelan rasa berbeda yang mencuat kepermukaan hidupku,
saat ini. Tak salah, tak masalah untuk mencari kemana alur ini akan dibawa,
hanya dengan meyakini bahwa aku telah menemukan alasanku untuk hidup : bahagia bersamamu.
-----dear-you----
Dear You,
Dan seterusnya, jika kau
mengizinkan,
Ini yang tertulis di wajahku,
ada rindu untukmu. Entah sudah berapa lama kata itu mengeratkan tentangmu dalam
keluasan perasaanku yang tak lekang. Tentangmu, saat ini, yang tak mampu
kutepikan apalagi kulupakan. Tentangmu yang setia kujaga di sudut hati
terdalam. Inilah kuasa pilihanku.
Inilah yang tertulis di hatiku, aku
memilihmu.
-----dear-you----
Dear You,
Tanpamu begitu beda, mungkin
saja-
Tanpamu begitu beda, tanpamu
begitu sepi. Mungkin saja, begitu tak bisa dan tak terbiasa aku tanpamu. Hanya
saja, yang aku tau... begitu
bahagia jika aku bersamamu. Titik!!
-----dear-you----
Dear You,
Di cinta, aku berhenti
membacamu-
Ini, bukan soal kata ganti
orang pertama atau kedua. Yang aku cari adalah subyek dengan abjad cinta yang
berfungsi sebagai kata kerja. Di kata cinta aku ingin berhenti membacamu. Lalu,
kemudian aku tanya “bagaimana menulis kata cinta?”. Aku hanya mampu mengeja
hurufnya, selebihnya adalah rasa yang diam dari kedalamannya. Lalu, terang
senja menikamku di ruang penuh cahaya. Seperti masuk dalam sebuah labirin,
setiap kali aku mencoba mengurai segala tentangmu sesatku di persimpangan
jalan. Menunggumu dalam ketidakpastian. Ini yang terpikirkan olehku, bukan cinta yang akan memisahkan, tapi
kita yang membuatnya terjadi. Bukan cinta yang akan melukai, kita yang
membuatnya terjadi sedemikian rupa. Dan,
semoga kita tak pernah berpikir untuk melakukannya.
-----dear-you----
Dear You,
Yes you,-
Senja, yang aku tandai ramai jalanan dengan satu keyakinan.
Bisakah esok sebuah kejutan datang? Tau-tau rindu menyelinap tanpa rencana.
Senja yang tak terbilang, gentar melawan bilang-bilang satu rindu. Tiba-tiba
sebuah jejak baru ingin kupijak, dan di teduh matamu aku tak ingin beranjak pergi. Tanpa
praduga, udara dipenuhi bingkai apik matamu. Satu demi satu, mengundang tenang
didekatku. Mungkin terdengar lugu, tapi peduli apa ketika gersang
keterasinganku serentak menghijau tiba-tiba.
-----dear-you----
Dear You,
Menunggu waktu, KITA ?-
‘Apa yang sebenarnya paling kita tunggu?’ Waktu bertemu?
Waktu berpisah? Untuk kita yang telah lelah dan kalah karena menunggu? Kita? Menunggu waktu untuk bertemu atau menunggu
waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya?