Hello :)

cintai hidup dengan keberanian ~

Kamis, 19 April 2012

TINGGI BAGAI BINTANG, BUKAN AWAN


“Rendah hati, dan jadilah bintang yang menjulang di langit
Walau dalam bayangan air sekalipun, ia tetap menjulang tinggi
Dan janganlah menjadi awan yang terbang ke langit
Seakan-akan tinggi, padahal tidak ada isinya apa-apa”

Ketika kegelapan meliputi seluruh ruang di bumi, jauh di langit sana berkelap-kelip bintang bercahaya menerangi langit. Bintang-bintang itu bertebaran membentuk berbagai gugus yang sangat menawan. Bintang yang menjadi sumber cahaya yang membuat kegelapan menjadi indah, dia akan selalu tinggi menjulang sekalipun terlihat dari bayangan air di bumi.
Berbeda dengan awan yang berarak putih atau hitam di langit sana. Ia terbang bergumpal-gumpal meninggi menuju langit, seakan-akan ialah yang tertinggi. Padahal gumpalan awan berarak itu tidak ada artinya apa-apa. Awan tidak lebih sekadar batas pandangan manusia di langit. Awan membumbung tinggi tapi kosong, seakan berada di atas padahal tidak punya arti apa-apa.
Ada dua pilihan untuk hidup kita di masa depan, ingin menjadi bintang atau menjadi awan. Dua-duanya adalah cita-cita yang bisa kita capai, berkembang dan maju untuk membumbung tinggi tujuan dan cita-cita kita, hanya saja dengan cara dan kondisi berbeda. Menjadi bintang adalah mengembangkan diri dengan penuh prestasi, sedangkan menjadi awan hanyalah mengembangkan diri dengan sensasi tanpa ada prestasi.
Bintang adalah sang juara, begitulah yang sering kita dengar dan kita ucapakan. Ia mempunyai sumber cahaya di dalam dirinya yang tercermin pada kehidupan sehari-hari kita. Dalam kehidupan kita, sumber cahaya bintang ialah ilmu, keterampilan, dan sikap mental yang kita miliki. Seorang bintang berbicara tidak sekadar omongan, tetapi ia berbicara dengan prestasi kerja yang memadai. Karena itu, bintang selalu bersinar di mana pun ia berada.
Sebaliknya, awan. Ia membumbung tinggi ke langit bukan karena bobotnya tapi karena ringannya gumpalan awan itu. Seorang yang ingin menjadi awan selalu ingin terlihat tinggi di depan siapapun. Ingin dihargai dan dihormati dilingkungannya. Tetapi, ironisnya semua yang ia lakukan tidak didukung dengan kondisi yang sebenarnya. Dimana ia tidak mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang bisa memberikan warna bagi kondisi lingkungan dan kehidupannya.
Biarkan tangan yang menjalankan dan hati memilih apa yang menjadi jalan hidup kita, sebuah takdir memang telah ditulis didalam skenario yang telah tersusun hanya saja bagaimana cara kita untuk mengubah sedikit guratan cerita dari skenario itu. Dengan segala kelebihan kita, saatnya untuk merunduk merendahkan diri dan hati. Biarkan prestasi kita berbicara, juga biarkan orang lain yang melihat kita sebagai seorang bintang. Jika kita menjulang-julangkan diri kita ke atas langit, alih-alih ingin menjadi bintang, kita bisa terjebak untuk menjadi awan yang berarak-arak di langit, terbang seakan tinggi ke angkasa, padahal isinya kosong belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.