“Rendah hati, dan jadilah bintang
yang menjulang di langit
Walau dalam bayangan air sekalipun,
ia tetap menjulang tinggi
Dan janganlah menjadi awan yang
terbang ke langit
Seakan-akan tinggi, padahal
tidak ada isinya apa-apa”
Ketika kegelapan meliputi
seluruh ruang di bumi, jauh di langit sana berkelap-kelip bintang bercahaya menerangi
langit. Bintang-bintang itu bertebaran membentuk berbagai gugus yang sangat
menawan. Bintang yang menjadi sumber cahaya yang membuat kegelapan menjadi
indah, dia akan selalu tinggi menjulang sekalipun terlihat dari bayangan air di
bumi.
Berbeda dengan awan yang berarak
putih atau hitam di langit sana. Ia terbang bergumpal-gumpal meninggi menuju
langit, seakan-akan ialah yang tertinggi. Padahal gumpalan awan berarak itu
tidak ada artinya apa-apa. Awan tidak lebih sekadar batas pandangan manusia di
langit. Awan membumbung tinggi tapi kosong, seakan berada di atas padahal tidak
punya arti apa-apa.
Ada dua pilihan untuk hidup kita
di masa depan, ingin menjadi bintang atau menjadi awan. Dua-duanya adalah
cita-cita yang bisa kita capai, berkembang dan maju untuk membumbung tinggi
tujuan dan cita-cita kita, hanya saja dengan cara dan kondisi berbeda. Menjadi bintang
adalah mengembangkan diri dengan penuh prestasi, sedangkan menjadi awan
hanyalah mengembangkan diri dengan sensasi tanpa ada prestasi.
Bintang adalah sang juara,
begitulah yang sering kita dengar dan kita ucapakan. Ia mempunyai sumber cahaya
di dalam dirinya yang tercermin pada kehidupan sehari-hari kita. Dalam kehidupan
kita, sumber cahaya bintang ialah ilmu, keterampilan, dan sikap mental yang
kita miliki. Seorang bintang berbicara tidak sekadar omongan, tetapi ia
berbicara dengan prestasi kerja yang memadai. Karena itu, bintang selalu
bersinar di mana pun ia berada.
Sebaliknya, awan. Ia membumbung
tinggi ke langit bukan karena bobotnya tapi karena ringannya gumpalan awan itu.
Seorang yang ingin menjadi awan selalu ingin terlihat tinggi di depan siapapun.
Ingin dihargai dan dihormati dilingkungannya. Tetapi, ironisnya semua yang ia
lakukan tidak didukung dengan kondisi yang sebenarnya. Dimana ia tidak
mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang bisa memberikan warna bagi kondisi
lingkungan dan kehidupannya.
Biarkan tangan yang menjalankan
dan hati memilih apa yang menjadi jalan hidup kita, sebuah takdir memang telah
ditulis didalam skenario yang telah tersusun hanya saja bagaimana cara kita
untuk mengubah sedikit guratan cerita dari skenario itu. Dengan segala
kelebihan kita, saatnya untuk merunduk merendahkan diri dan hati. Biarkan prestasi
kita berbicara, juga biarkan orang lain yang melihat kita sebagai seorang
bintang. Jika kita menjulang-julangkan diri kita ke atas langit, alih-alih
ingin menjadi bintang, kita bisa terjebak untuk menjadi awan yang berarak-arak
di langit, terbang seakan tinggi ke angkasa, padahal isinya kosong belaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.